sekedar sharing pemikiran dan perjalanan hidup ……

Terbaru

SBY,Dengarkanlah Kisah Nenek ini ? ‘Jika Lapar, Saya Menangis’

Pamekasan – Sabtu siang, (19/6/2010), terik matahari menyengat di Kampung Lebak Barat, Desa Tlonto Raja, Kecamatan Pasean, Pamekasan. Panas dan gersang biasa terjadi di kampung itu setiap kali masa puncak kemarau datang.

Puluhan warga kampung itu berkumpul di sekitar rumah Nyi Siti Rahmah (85) yang reot. Dinding rumah itu terbuat dari anyaman bambu dan seng, lantainya tanah, tampak kumuh, tak terawat, dan tidak layak huni.

Ya, rumah gedek mulai reot berukuran 2×2 meter itu, dihuni oleh nenek tua yang setiap harinya menangis tanpa harus berdenting keras. Jika rasa lapar sudah datang, Siti Rahmah hanya mengeluarkan air mata. Air mata itu tak berharga menurutnya.

Ia sudah bosan, dengan kondisi karena tidak ada satupun orang yang datang untuk peduli pada kehidupannya. Puluhan tahun, nenek yang tidak punya anak dan keluarga ini hanya menghabiskan waktu bersama dingin malam dan tumpukan sampah yang berceceran di lantai rumahnya.

Tak salah jika wajah Siti Rahmah terlihat suram. Bicaranya pelan saat menerima tamu yang tiba-tiba berkunjung. Dia kebanyakan menunduk menatapi tanah liat keras menghitam yang menjadi lantai rumahnya. Beberapa kali dia menggosok-gosok plastic yang dia duduki. Sesekali, Siti memerbaiki sarung yang dipakainya dan dengan kaku menatap tamunya

“Jika lapar, saya hanya menangis, Jika ada orang yang memberi uang, saya belikan nasi. Hanya nasi. Hanya Nasi. Hanya Nasi,” kata Siti Rahmah, sembari mengeluarkan air mata.

Banyak orang yang bilang Jakarta itu kota metropolitan yang kejam. Sampai sekarang pun pemikiran seperti itu tetap sama, ketika pagi-pagi dikejar waktu, puluhan bahkan ratusan orang harus kejar-kejaran dengan bus kota, hingga mengikhlaskan kaki berdiri untuk sampai pada tujuan.

Dibalik itu semua, mereka hanya tinggal di rumah kumuh dengan tumpukan sampah di sekitarnya. Kondisi itu juga terjadi di Pamekasan. Tidak sedikit, mulai dari anak-anak kecil hingga nenek tua hidup dengan rumah reot dan kumuh.Kalau mau jujur melihat akar permasalahan, kehidupan Siti Rahmah tak lepas dari kemiskinan yang masih membelenggu sebagian besar rakyat. Bayaknya rakyat yang antri pada setiap pembagian zakat atau sembako yang dilakukan segelintir orang kaya, menandakan bahwa masih banyak kaum miskin ada di sekitar kita. Kalau tingkat kesejahteraan hidup mereka sudah baik, tidak mungkin mereka “mbelani” untuk mendapatkan uang yang hanya Rp 20 ribu. Ini merupakan potret nyata kemiskinan masih banyak ditemui di negeri ini.

Yanto, warga setempat mengaku kehidupan Siti Rahmah di perkampungan warga sangat memprihatinkan. Dia berharap, Siti Rahmah bisa diterima, meski tanah yang ditempatinya saat ini bukan miliknya sendiri. “Tidak sedikit, orang yang lewat memberikan uangnya. Tidak sedikit, orang yang melihat Siti Rahmah menangis. Nenek tua yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sering menangis jika lapar menerpa,” pungkasnya. [san/kun]

sumber:beritajatim.com

Sebuah Nasihat Dari Sayyid Quthb: Tuhan Baru Itu Bernama ‘Maslahat Dakwah’

Ikhwahfillah rahimakumullah, hidup ini adalah sebuah jalan dimana kita akan dihadapkan oleh banyaknya tantangan dan godaan terhadap tauhid kita. Manusia diciptakan dengan penuh kelalaian lagi kehinaan. Ia bersimpul dalam diri kita. Mengakar kuat dalam ulu hati. Manusia-manusia Rabbani yang menjadikan tauhid sebagai esensi dalam dirinya kemudian harus sadar bahwa hanya kepadaNyalah kelemahan itu akan tertutupi jika kita senantiasa berpegang kepada tali buhul yang tak akan putus, yakni tali tauhid untuk hanya mengamba di jalan Allahuta’la.

Ikhwahfilah rahimakumullah, Asy Syahid Sayyid Quthb pernah menggariskan, bahwa dakwah pasti akan mengalami benturan, dimana kekuatan Al Haqq akan berkonfrontasi dengan Al Bathil. Di sini, Islam tidak bisa mengambil jalan damai, meletakkan Kebenaran untuk berkompromi dg kebathilan. Memadukan thesa dan anthithesa antara Islam dengan kejahiliyahan. Simpul-simpul Rabbani itu justru akan menguat seiring Islam lebih memilih untuk tunduk di jalan Kemuliaan, dan mengacuhkan nikmat hina-dina itu.

Fitnah kemenangan akhir zaman inilah yang mesti betul-betul diwaspadai oleh aktifis dakwah. Ia sesuai dengan bagaimana Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya di kalangan kamu nanti akan tertanam kemauan besar kedudukan (politik) dalam kerajaan.

Sesungguhnya yang demikian itu akan menjadikan kamu menyesal dan susah pada Hari Kiamat; Sebaik-baik ibu adalah yang mau menyusui anak (artinya sebaik-baik pemimpin adalah yang memperhatikan kepentingan rakyat), dan seburuk-buruk ibu adalah ibu yang tidak mau menyusui anaknya (artinya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang tidak memerhatikan kepentingan rakyat). (Riwayat Bukhari dan Nasa’i).

Ikhwah fillah, tulisan ini lahir dari sebuah perenungan Asy Syahid, tentang cobaan dakwah yang akan senantiasa melingkupi tiap diri kita. Sebuah diri yang menasbihkan semata-mata mengabdikan hidup kepada Allahuta’ala meski kemenangan seakan-akan sudah di depan mata.

Dalam surat wasiat [1] untuk adiknya, Aminah Quthub, Asy Syahid Sayyid Quthb Rahimakumullah menulis :

“Sulit bagi saya membayangkan bagaimana mungkin kita akan sampai pada tujuan mulia dengan menggunakan wasilah (alat bantu/perantaraan) yang kotor. Tujuan yang mulia hanya akan hidup di dalam hati nurani yang mulia pula. Karenanya, bagaimana mungkin nurani yang mulia itu mau menggunakan wasilah busuk lagi kotor. Atau –yang lebih ironis lagi- bahkan mendambakan hidayah dan pertolongan Allah melalui wasilah busuk itu ?

“Ketika kita telah tersesat dalam sebuah penyimpangan, sebagai dampak dari lumpur kesalahan yang kita lalui, maka tidak terelakkan lagi kita pasti akan berada dalam penyelewengan yang sangat kotor. Karena jalan yang penuh dengan lumpur pasti akan meninggalkan bekas kotor pada kaki orang-orang yang melewatinya. Demikian pula halnya dengan wasilah yang kotor, pastilah akan menimbulkan noda hitam yang akan terus menempel dan meninggalkan bekas kekotoran pada jiwa kita serta pada tujuan yang akan kita capai”.

Dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an, menjelaskan surah Al Hajj ayat 52, yang artinya

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Hajj 52)

Sayyid Quthub Rahimakumullah mengatakan :

“Panasnya pergolakan dan kecamuk pertarungan telah mendorong para aktifis dakwah sepeninggal Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam untuk terus merupaya menegakkan Risalah ini. Namun di sisi lain tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengambil jalan pintas dengan menggunakan berbagai wasilah, strategi dan metode yang melenceng dari kaidah dan manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Hal itu tidak lain disebabkan oleh ketergesa-gesaan dan ketidak sabaran untuk segera memperoleh kemenangan dan keberhasilan dakwah mereka.

“Jalan pintas itu adalah hasil ijtihad mereka atas apa yang mereka sebut dengan ‘mashlahat dakwah’. Padahal yang dimaksud dengan mashlahat dakwah yang sebenarnya adalah sikap istiqomah dari para pengemban amanah dakwah agar senantiasa berada di atas manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam tanpa sedikit pun tergoda untuk berpaling darinya walau selangkah pun. Adapun hasil akhir dari dakwah adalah perkara ghaib yang tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah Azza Wa Jalla wa Jalla.

“Dengan demikian tidak selayaknya bagi para aktifis dakwah menjadikan hasil akhir sebagai tolok ukur dan tujuan utama dakwah mereka. Kewajiban mereka hanyalah menegakkan dakwah di atas manhaj yang lurus dan bersih dari berbagai penyimpangan, seraya bertawakkal dan menyerahkan seluruh hasil usaha yang telah dilakukan dengan penuh istiqomah kepada Allah Azza Wa Jalla wa Jalla. Jika ini telah dilakukan, niscaya kebaikan lah yang akan diperoleh, apapun hasil yang dicapai.

“Ayat di atas mengingatkan mereka bahwa syaitan tidak akan pernah berhenti menghembuskan tipu daya dan godaan-godaannya terhadap para aktifis dakwah. Allah telah melindungi para Rasul dan nabi yang ma’shum sehingga mereka mampu membebaskan diri dari setiap tipu daya syaitan dan tetap istiqomah pada manhaj dakwah yang lurus. Namun tidak demikian halnya dengan para aktifis dakwah setelah mereka. Karena itu sudah seyogyanya bagi setiap aktifis dakwah agar berhati-hati dan waspada terhadap godaan syaitan ini dan tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada syaitan untuk menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan disebabkan oleh besarnya keinginan untuk segera mencapai keberhasilan dakwah dan memberikan ‘mashlahat’ bagi umat Islam.

“Tidak ada jalan lain, kalimat ‘mashlahat dakwah’ harus dibuang jauh-jauh dari kamus para aktifis dakwah, karena ia telah memalingkan mereka dari tujuan dakwah yang mulia dan menjadi pintu masuk syaitan untuk menyesatkan mereka setelah gagal menjerumuskan mereka melalui pintu mashlahat pribadi.”

Lebih lanjut Sayyid Quthb menambahkan :

“‘Mashlahat dakwah’ telah menjelma menjadi berhala, Ilaah yang diibadahi oleh para aktifis dakwah dan menjadikan mereka melupakan manhaj dakwah Rasul yang murni dan orisinal. Karena itu, wajib bagi setiap aktifis dakwah untuk tetap istiqomah di atas manhaj Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam serta dengan sekuat tenaga menjaga agar tidak tergoda oleh segala bujuk rayu yang pada akhirnya justru akan menghancurkan bangunan dakwah yang telah mereka bina.

“Ketahuilah bahwa satu-satunya bahaya yang harus terus diwaspadai oleh para aktifis dakwah adalah penyimpangan dari manhaj dakwah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam dengan alasan apapun, sekecil apapun penyimpangan itu.

“Karena sesungguhnya Allah lah yang lebih Mengetahui tentang mashlahat dibandingkan mereka. Sedangkan mereka tidak dibebani sama sekali untuk mewujudkan mashlahat itu. Mereka hanya diwajibkan atas satu hal saja: agar tidak menyimpang sedikit pun dari Manhaj Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam dan tidak menyerah kalah lalu meninggalkan jalan dakwah yang penuh berkah ini “. [2]

Inilah esensi kemenangan sejati. Kemenangan yang hanya bersandar kepada manhaj kenabian. Kemenangan yang terbebas dari pencampuran antara kepentingan dunia dan akhirat meski hidup penuh onak dan duri. Inilah ciri generasi rabbani sejati ya ikhwah. Seperti bagaimana Asy Syahid menjelaskannya di bab-bab terakhir dari kitab monumentalnya, Ma’alim fiththariqh.

Sesungguhnya nilai yang paling berharga di dalam neraca Allah Ta’ala adalah nilai aqidah. Sesuatu yang paling laris dalam perniagaan Allah adalah iman. Kemenangan yang paling bernilai di sisi Allah ialah kemenangan ruh atas kebendaan, kemenangan aqidah menghadapi sakit dan sengsara, kemenangan iman menempuh badai fitnah dan ujian.

Di dalam kisah pembunuhan beramai-ramai di dalam parit api (Ashabul Uhdud), yang kita perbincangkan ini, nyata sekali kemenangan orang-orang beriman itu mengalahkan perasaan takut dan sakit. Kemenangan mengatasi godaan-godaan duniawi, kemenangan menghadapi fitnah, kemenangan kehormatan dan harga diri umat manusia di sepanjang zaman. Inilah kemenangan sejati !”. [3]

 

[1] Wasiat ini pertama kali dirilis oleh Majalah Al Fikr Tunisia edisi VI Maret 1959 dengan judul “Cahaya dari Kejauhan”.

[2] Tafsir Fi Zilalil Qur’an Juz 4 halaman 2435, Al Qoul An Nafiis Fit Tahdzir Min Khodi’ati Iblis (Mashlahah Da’wah) karangan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi halaman 60 – 61

NB: Wasiat-wasiat dari tulisan Asy Syahid Sayyid Quthb dicopy dari penggalan Tulisan Ustadz Fuad Al Haizmi dengan judul “Tuhan Baru Itu Bernama “Maslahat Dakwah”. (Pz)

Ketika Dunia Belajar Pengobatan

Oleh: Dr. Fahmi Amhar

Bangsa Franken adalah nenek moyang bangsa Prancis. Meski Prancis sekarang adalah salah satu negara maju, seribu tahun yang lalu mereka masih amat biadab, terlebih dalam ilmu pengobatan.

Bangsa Franken adalah peserta terbanyak dalam tentara Salib yang menguasai Jerusalem dan sekitarnya kira-kira seabad lamanya. Karena di wilayah itu sudah banyak penduduk Muslim, maka ada interaksi antara tentara Salib dan kaum Muslim. Namun para jurnalis Muslim banyak menceritakan kisah mengerikan sekaligus aneh dan lucu di antara tentara Salib.

Misalnya kisah dokter bernama Tsabit bertugas di Libanon. Para pembesar pasukan Salib tidak begitu yakin dengan cara penyembuhan dokter-dokter Franken sendiri. Di ‘Negeri Suci’ ini, mereka, yang menderita berbagai penyakit kulit, perut mulas dan diare, ternyata lebih senang berobat kepada dokter-dokter Muslim.

Suatu hari Tsabit pulang terlalu cepat. Tsabit bercerita,”Kepadaku didatangkan seorang prajurit dengan kaki bengkak bernanah, dan wanita yang demam tinggi. Untuk si prajurit aku balutkan perban hingga bengkaknya kempes dan berangsur membaik. Kepada wanita itu aku sarankan untuk diet dan memperbaiki kondisi tubuhnya dengan ramuan dari bahan herbal.

Tiba-tiba datanglah seorang dokter Franken dan berkata: ‘Ia tak tahu apa-apa untuk dapat menyembuhkan mereka.’ Maka ia hampiri si prajurit dengan pertanyaan: ‘Pilih, mana yang lebih kamu sukai, hidup dengan satu kaki, atau mati dengan dua kaki?’ Si prajurit menjawab: ‘Hidup dengan satu kaki.’ Maka berserulah sang dokter Franken: ‘Datangkan kepadaku seorang prajurit yang kuat dengan sebuah kampak yang tajam!’ Seorang prajurit dengan sebuah kampak tajam pun muncul. Aku masih berdiri di situ. Sang dokter lalu meletakkan kaki bengkak itu di atas sebuah balok kayu dan memerintah si prajurit berkampak: ‘Penggallah kaki itu dengan sekali ayunan kampakmu!’ Tanpa ragu si prajurit menebaskan kampaknya sekali, tapi ternyata kaki sakit itu belum juga terputus. Ditebaslah kaki itu sekali lagi dengan kampak. Maka mengalirlah sungsum tulang di kaki terpenggal itu. Dan prajurit yang malang itu pun tewas sejam kemudian.

Sang dokter Franken beralih memeriksa wanita yang demam itu dan berkata: ‘Wanita ini kesurupan jin yang jatuh cinta kepadanya. Potonglah rambut di kepalanya.’ Seseorang lalu memotong rambut wanita itu. Seterusnya wanita itu kembali lagi makan hidangan ala negeri asalnya. Panas di tubuhnya meninggi. Sang dokter berkata: ‘Jin di dalam tubuhnya telah naik di kepala.’ Bersamaan dengan ucapan ini ia raih sebuah pisau cukur, ia sayat kulit kepala wanita itu menyilang dan ia kelupas sebagian kulit kepala itu sedemikian rupa sampai tulang tengkoraknya tampak jelas terlihat. Lalu ia taburkan sejumput garam pada luka sayatan. Sejam kemudian wanita itupun tewas.

Aku bertanya pada mereka: ‘Masih adakah tugas-tugas dari Anda untukku?’ ‘Tidak.’ Karena itu pergilah aku, setelah aku ‘belajar’ cara penyembuhan mereka yang aneh, yang sejauh ini belum pernah aku kenal.”

Itulah kisah Tsabit yang diceritakan Amir Usamah ibnu Munkhid (1095 – 1188), seperti dikutip Sigrid Hunke dalam bukunya “Allah Sonne ueber dem Abendland”.

Cerita di atas bukan propaganda bermusuhan, juga bukan penghinaan dari lawan. Namun memang orang-orang Franken itulah yang justru bersikap memusuhi umat Islam.

Seratus tahun kemudian, seorang bangsawan Jerman yang pendek dan gemuk harus mati menyakitkan akibat ulah penganut Kitab Tawarikh. Sebagai pengiring Kaisar Heinrich IV dalam rombongan yang ke Italia, ia cemas, apakah tubuhnya yang berlemak itu dapat melewati sulitnya medan dan panasnya cuaca Italia. Karena itu ia berkonsultasi pada seorang dokter. Sang dokter ternyata langsung mengiris perut si bangsawan dan mengeluarkan lemak di dalamnya. Sebuah metode yang radikal sama halnya dengan yang dilakukan para dokter Franken.

Tidak ada sesuatupun cara pengobatan Pasukan Salib, yang dapat diambil pelajaran. Tidak ada yang pantas dipertahankan dari mereka di bidang kedokteran.

Di mana coba, di dunia saat itu terdapat dokter-dokter bermutu seperti di dunia Islam? Di mana terdapat perkembangan kedokteran yang begitu mekar seperti hasil pemikiran masyarakat Muslim ini? Adakah di lain tempat sistem sanitasi dan apotik? Bisakah rumah-rumah sakit di mana pun di dunia saat itu menyamai canggihnya rumah-rumah sakit di kota-kota Khilafah? Kemajuan metode pengobatan mereka seiring dengan riset yang mereka lakukan. Masih adakah yang aneh, jika ternyata orang-orang Franken pun meminta bantuan pengobatan kepada mereka?

Para biarawan di gereja-gereja Eropa sering diminta umatnya memberi keajaiban penyembuhan, sebagaimana dulu al-Masih melakukannya. Mereka menyembuhkan dengan usapan tangan, ritual pengusiran Iblis, dan doa bersama. Mereka menolak obat-obatan apapun, baik yang dari tumbuhan, hewan maupun kimia, karena itu dianggap tanda tipisnya iman kepada Tuhan.

“Ilmu obat-obatan dalam segala bentuknya berasal dari tipu-daya yang sama,” — tuduh Tatian, seorang penginjil, atas orang-orang yang percaya pada obat-obatan alami. “Bila seseorang menggunakan obat yang ia percayai, maka ia tidak akan lebih banyak disembuhkan, ketika ia sendiri melupakan Tuhan. Mengapa kamu tidak berserah diri saja kepada Tuhan? Relakah kamu disembuhkan seperti anjing dengan rumput, kijang dengan ular, babi dengan kepiting, singa dengan kera? Mengapa kau pertuhankan hal-hal duniawi?”

Pengkhotbah Salib Bernhard von Clairvaux (1090 – 1153), dengan tegas melarang para biarawan, yang sering sakit karena kondisi udara yang buruk, untuk berobat pada dokter Muslim dan menggunakan obat, karena “tidak sepatutnya membiarkan kesucian jiwa berada dalam bahaya melalui penggunaan obat-obatan duniawi.”

Paus Innocentius III dalam Konsili Lentera pada 1215 menjadi kewajiban yang harus ditaati: Atas putusan dari sebuah komite gereja, seorang dokter dilarang menangani pasien, sebelum si pasien melakukan pengakuan dosa. Sebab penyakit itu berasal dari dosa. Hal yang di abad-21 ini nyaris ditiru seorang ustadz penyembuh di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.

Bandingkan situasi suram di Eropa itu dengan sebuah surat dari seorang pengelana Eropa di dunia Islam.

“Ayahku! Kau bertanya, apakah kau harus membawa uang untukku. Bila aku sudah sembuh dan keluar nanti, rumah sakit akan memberiku pakaian baru dan lima potong emas, sehingga aku tak harus langsung bekerja. Kau pun tak perlu menjual ternak kepada tetangga. Tapi hendaknya kau segera datang, jika kau masih ingin menemuiku di sini. Aku terbaring di bagian ortopedik, bersebelahan dengan saal operasi. Bila kau datang melalui pintu masuk utama, berjalanlah lurus melalui aula bagian selatan. Di situ ada poliklinik, tempat aku diperiksa pertama kali setelah aku terjatuh. Di sana setiap pasien baru akan diperiksa oleh para asisten dokter dan mahasiswa, dan jika seseorang dianggap tidak perlu dirawat-nginap, maka ia akan segera diberi resep obat, yang dapat ditukarkan di apotik rumah sakit. Setelah diperiksa di sana aku lalu didaftar, lalu diantar menemui dokter kepala rumah sakit. Seorang perawat memapahku masuk ke bangsal pria, memandikan tubuhku dan mengenakan pakain pasien yang bersih. Di sebelah kiri kau dapat melihat perpustakaan, dan ruang kuliah besar berada di belakangmu. Di situlah biasanya dokter kepala memberikan kuliah kepada mahasiswa. Gang di sebelah kiri beranda adalah jalan menuju bangsal wanita. Kau harus tetap mengambil jalan sebelah kanan, terus melewati bagian internis dan bagian bedah. Bila kebetulan terdengar alunan musik dan lagu-lagu dari salah satu kamar, cobalah tengok di dalamnya. Boleh jadi aku sudah berada di sana, di sebuah ruang khusus untuk para pasien yang sudah sembuh. Di situ kita dapat membaca buku-buku sambil menikmati alunan musik sebagai hiburan. Pagi tadi, ketika dokter kepala bersama para asisten dan perawat dalam kunjungan kelilingnya menjenguk dan memeriksaku, kepada dokter yang merawatku ia mengatakan sesuatu, yang tak aku pahami. Maka ia lalu menjelaskan kepadaku, bahwa besok pagi aku sudah boleh bangun dan meninggalkan rumah sakit. Keputusan yang sebenarnya belum aku inginkan. Rasanya aku masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Di sini semuanya begitu bersih dan terang. Tempat-tempat tidurnya empuk, sepreinya terbuat dari kain damas putih dan selimutnya lembut seperti beludru. Dalam setiap kamar tersedia aliran air, yang akan dihangatkan bila malam yang dingin tiba. Hampir tiap hari disuguhkan masakan daging unggas atau domba panggang, yang sangat cocok bagi kondisi perut para pasien. Pasien di sebelahku telah dengan sengaja selama seminggu pura-pura masih sakit, hanya agar ia masih bisa menikmati kelezatan gorengan ayam dalam beberapa hari lagi. Tapi dokter kepala mengetahui hal itu. Karena itu ia pun disuruh segera pulang. Namun untuk menunjukkan bahwa pasien itu sudah benar-benar pulih kesehatannya, ia masih dibolehkan sekali lagi menyantap hidangan roti keju dan ayam panggang. Nah, ayah, datanglah, sebelum daging ayam terakhir untukku dipanggang!”

Situasi sebagaimana yang digambarkan dalam surat di atas tentu tak perlu diragukan, andai itu ditulis pada abad ke-21 ini. Namun surat itu menggambarkan fasilitas dan pelayanan salah satu rumah sakit 1000 tahun yang lalu, yang ada di kota-kota besar Khilafah, yang membentang antara Himalaya di India dan Pyrenia di Prancis. Cordoba sendiri pada pertengahan abad ke-10 sudah mempunyai 50 rumah sakit. Pada jaman Harun Al-Rasyid, Baghdad sudah memiliki banyak rumah sakit terkenal. Di situlah diterapkan ilmu kedokteran yang tidak lagi dari berasal dari takhayul, tetapi yang telah melalui percobaan ilmiah (kedokteran eksperimental).

Waspadai Propaganda Syetan! (Tafsir QS al-A’raf [7]: 20-21)

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua” (TQS al-A’raf [7]: 20-21).

 

Iblis dan syetan adalah musuh bagi manusia. Yang diinginkan terjadi pada diri manusia adalah kesengsaraan dan penderitaan. Oleh karena itu, Iblis pun melakukan berbagai cara untuk memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah SWT. Sebab, Iblis tahu benar sikap durhaka terhadap perintah Allah akan mengantarkan manusia kepada kesengsaraan dan penderitaan.

Ayat ini menggambarkan kepada kita betapa liciknya Iblis dalam menjerumuskan Adam dan istrinya, hingga keduanya pun terbujuk oleh oleh rayuannya.

 

Ditipu Syetan

Allah SWT berfirman: Fawaswasa lahumâ al-syaythân (maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya). Ayat ini merupakan penggalan dari kisah Nabi Adam beserta istrinya. Setelah berbuat durhaka kepada Allah SWT, Iblis diusir dari surga. Sementara Adam dan istrinya, diperintahkan untuk tetap tinggal di surga. Keduanya dipersilakan untuk memakan buah-buahan mana saja yang disukai kecuali sebuah pohon. Keduanya dilarang mendekati pohon tersebut (QS al-A’raf [7]: 19).

Ayat ini kemudian memberitakan tentang tindakan Iblis yang membujuk Adam dan Hawa untuk melanggar larangan Allah SWT. Dijelaskan al-Syaukani dalam Fath­ al-Qadîr, kata al-waswash berarti al-shawt al-khafiyy(suara tersembunyi, samar). Al-Biqai memaknai fawaswasa sebagai perbuatan yang menyampaikan secara tersembunyi, dibuat terlihat indah, dilakukan berulang-ulang, dan dimunculkan rasa senang terhadapnya. Tindakan inilah yang dilakukan syetan terhadap Adam dan istrinya.

Tujuan dari bujuk rayu syetan itu adalah: liyubdiya lahumâ mâ wûriya ‘anhumâ min saw-âtihimâ (untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya). Kata yubdiya berarti yudhhira(memperlihatkan). Pengertian mâ wûriya adalah mâ ghathâ wa satara (apa yang terbungkus dan tertutup) dari yang keduanya. Sedangkan yang dimaksud dengan saw-âtihimâ adalah al-farj (kemaluan). Disebut demikian karena terlihatnya farji membuat pelakunya menjadi buruk. Menurut al-Samarqandi, saw-âtihimâ di sini merupakan kinâyah untuk menunjuk aurat. Terbukanya aurat keduanya. Inilah yang dikehendaki syetan terjadi pada Adam dan istrinya.

Niatan busuk tersebut tentu tidak disampaikan kepada Adam dan istrinya. Jika itu disampaikan, niscaya akan ditolak. Oleh karena itu, huruf al-lâm dalam ayat ini bermakna li al-’âqibah. Demikian penjelasan al-Syaukani, dan lain-lain. Artinya, yang disampaikan untuk menjadi akibat ketika bujuk rayu syetan diikuti.

 

Menampilkan Diri sebagai Penasihat

Dalam ayat selanjutnya disebutkan: wa qâla mâ nahâkumâ Rabbukumâ ‘an hâdzihi al-syajarah (dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini). Pohon yang dimaksud memang tidak boleh didekati oleh Adam dan istrinya. Larangan tersebut adalah larangan yang haqq. Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam ayat 19, jika larangan tersebut dilanggar, keduanya menjadi orang zalim.

Ketika larangan tersebut dipahami sebagai larangan yang benar, maka akan melahirkan sikap taat. Yakni menjauhi pohon tersebut. Inilah sikap Adam dan istrinya ketika mendapat peringatan itu.

Untuk mengubah sikap Adam dan istrinya itu, maka Iblis melakukan tasykîk wa tadhlîl (memunculkan keraguan dan penyesatan) terhadap larangan Allah SWT itu. Caranya, dia memberikan ma’lûmât (informasi) yang bertolak belakang dengan pemahaman yang benar. Jika sebelumnya perbuatan mendekati pohon tersebut diyakini sebagai kezaliman, maka Iblis memberikan informasi sebaliknya. Jika mau mendekatinya, justru kebaikanlah yang akan didapat oleh Adam dan istrinya.

Inilah yang dilakukan Iblis dengan menyatakan: illâ an takûnâ malakayni aw takûnâ min al-khâlidîn (melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal [dalam surga]). Inilah penyesatan yang dilakukan Iblis, bahwa kebaikan akan diperoleh oleh Adam dan istrinya apabila mau memakan buah tersebut. Yakni, mereka berdua bisa menjadi malaikat atau hidup kekal. Untuk lebih meyakinkan Adam, Iblis pun menyebut buah tersebut sebagai syajarah al-khuldi, pohon keabadian (TQS Thaha [20]: 120).

Tak cukup dengan itu, Iblis pun bersumpah untuk meyakinkan Adam bahwa dia adalah penasihat yang baik.Allah SWT berfirman: wa qâsamahumâ innî lakumâ min al-nâshihîn (dan dia [syaitan] bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua”). Dijelaskan Ibnu Jarir al-Thabari, kata qâsamahumâ berarti khallafa lahumâ (bersumpah kepada keduanya). Kalimat sumpah diucapkan untuk menghilangkan keraguan Adam dan Hawa, bahwa dia (Iblis) benar-benar termasuk min al-nâshihîn (pemberi nasihat). Menurut al-Raghib al-Asfahani, kata al-nushh berarti memilih perbuatan atau ucapan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi sahabatnya.

Dengan demikian, syetan menampilkan diri seolah-seolah sebagai sahabat yang memberikan pilihan terbaik buat ‘sahabatnya’. Akhirnya Adam dan istrinya pun luluh terhadap bujuk rayu syetan. Allah SWT berfirman: Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya (TQS al-A’raf [7]: 21).

Ketika telanjur mengikuti ‘nasihat’ syetan, maka terjadilah apa yang diinginkan syetan sesungguhnya, yakni keburukan yang menimpa Adam dan Hawa. Aurat keduanya pun terbuka. Ketika itu terjadi, terbukalah kedok syetan yang sesungguhnya. Dia bukan sahabat, namun musuh yang sangat berbahaya. Allah SWT pun mengingatkan kembali kepada keduanya tentang Iblis yang sesungguhnya. Allah SWT berfirman: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (TQS al-A’raf [7]: 21).

Inilah peristiwa yang dialami oleh bapak seluruh manusia. Peristiwa ini harus dijadikan pelajaran penting bagi semua anak cucunya. Sebab, peristiwa semacam ini akan terus berulang. Sebagaimana tekadnya, syetan akan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah SWT yang lurus. Dan itu dilakukan dari segala arah (lihat QS al-A’raf [7]: 16-17). Manusia harus menyadari bahwa Iblis dan syetan adalah musuh yang nyata, dan karena itu harus diperlakukan sebagai musuh. Jika tidak ingin menyesal, jangan sekali-sekali mengikuti ajakannya.

Bagi manusia, tidak sulit untuk mengenali ajakan syetan. Setiap ajakan dan agar manusia melanggar syariah dan berpaling darinya adalah ajakan syetan. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (TQS al-Baqarah [2]: 169). Juga dalam firman-Nya: Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk (TQS al-Zukhruf [43]: 37).

Ajakan dan propaganda itu terkadang dikemas dengan balutan argumentasi yang tampak masuk akal dan seolah mendatangkan maslahat bagi manusia. Namun sesungguhnya itu adalah jebakan yang menjerumuskan manusia ke jurang penderitaan dunia dan akhirat. Demokrasi, sekulerisme, kapitalisme, liberalisme, pluralisme, ide HAM, sosialisme, dan semacamnya dapat dimasukkan di sini. Sebab, inti dari semua paham itu adalah melepaskan keterikatan manusia dari syariah. Demikian pula isu terorisme, deradikalisasi, dan semacamnya. Sebab, tujuan dari semua isu tersebut adalah untuk menciptakan ketakutan dan phobia terhadap syariah. Termasuk juga berbagai ide yang meragukan kewajiban syariah dan kehandalannya dalam kehidupan. Semuanya adalah propaganda syetan. Maka waspadalah agar tidak tersesatkan oleh semua propaganda palsu itu! Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:

1. Iblis dan syetan adalah musuh bagi manusia dan harus diperlakukan sebagai musuh

2. Jangan sekali-kali mengikuti ajakan syetan. Sebab, semua ajakan syetan bertujuan untuk menjerumuskan manusia.

3. Syetan mengajak manusia melanggar dan meninggalkan syariah

Catatan Kritis Draft Terakhir RUU Intelijen

RUU Intelijen = Lahirnya Rezim Represif

Proses pembahasan RUU Intelijen di DPR tinggal selangkah lagi. Pada tanggal 30 September lalu Komisi I DPR telah mengetuk palu persetujuan RUU Intelijen sebagai keputusan komisi untuk diajukan ke Sidang Paripurna DPR.

Draft final ini merupakan hasil dari perkembangan pembahasan sebelumnya. Dalam draft final ini terdapat perubahan terutama dalam hal definisi dan kategori ancaman, tentang penyadapan, pemeriksaan aliran dana, penggalian informasi dan ancaman sanksi pidana. Draft final inilah yang menjadi obyek analisis sekarang.

Beberapa catatan kritis atas draft final RUU Intelijen itu masih relatif sama dengan yang sebelumnya. Di dalam draft terakhir itu juga masih terdapat sejumlah pasal yang bermasalah. Draft terakhir itu jika disahkan nantinya tetap akan berpeluang melahirkan rezim represif yang bisa memata-matai rakyat. Intelijen nantinya masih berpeluang dijadikan alat oleh pemerintah dalam hal ini presiden. Kepala BIN juga tetap dijadikan sebagai satu-satunya pihak yang bisa menentukan telah terpenuhinya indikasi dan bukti awal yang cukup pada diri seseorang sehingga orang tersebut boleh disadap, diselidiki dan digali informasinya.

Berikut ini beberapa catatan kritis yang perlu menjadi perhatian semua elemen masyarakat terkait draft RUU Intelijen yang akan diajukan ke sidang paripurna DPR 27 September nanti: Baca kelanjutan halaman ini »

Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja

ATHENA – Sebelum pergi ke Inggris, Xenia hanya mengenal satu agama, Kristen Ortodoks. Dia lahir, dibesarkan, dan tinggal di Athena, Yunani, Sebelum akhirnya terbang ke Inggris tahun 1970-an untuk melanjutkan pendidikannya.

Di negeri inilah, cakrawalanya terbuka. Ia mengenal ada banyak agama di dunia ini. Islam salah satunya. Namun, ia tak berniat mempelajarinya, karena nyaman dengan agama yang dianutnya sejak kecil. “Saya dibesarkan dalam keluarga yang hangat walau tak begitu taat beribadah,” ujarnya.

Usai kuliah, ia tak kembali ke negerinya. Seorang pemuda setempat memikat hatinya, dan mereka menikah. Belakangan, ia baru tahu suaminya sangat berminat pada Islam. “Agama tak begitu berperan dalam kehidupan keluarga saya…maka saya pun tak ambil pusing dengan orientasi keyakinan suami saya,” ujarnya.

Di rumah, mereka tak pernah mendiskusikan agama. “Dia menghargai keyakinan saya, demikian pula sebaliknya,” katanya. Belakangan ia tahu, suaminya telah menjadi Muslim.

Bersuami seorang Muslim, cakrawalanya tentang Islam terbuka. Di sekolah, ia hanya tahu hal negatif tentang agama ini. Begitu juga di media yang dia baca. Namun di rumah, ia menemukan oase yang berbeda, melalui suaminya. Namun, ia masih belum tergerak hatinya belajar Islam.

Ia hanya mempelajari Islam sedikit, demi menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak lebih condong memilih Islam, mengikuti agama sang ayah. “Saya mengantar mereka ke masjid, tapi saya tak ikut turun. Saya menunggu di mobil saja,” ujarnya.

Saat dua anaknya menginjak remaja, suaminya meninggal dunia. Xenia sungguh terpukul. Ia memutuskan untuk pulang ke negeri asalnya, Yunani. Anak-anaknya, memilih tetap tinggal di Inggris.

Di bandara, ia menerima SMS anak lelakinya yang termuda, “Mum, kami mencintaimu dan kami tak ingin engkau berbeda dari kami ketika kelak kau berpulang seperti papa. Please, jadilah Muslimah.”

Ia merenungi SMS sang anak. “Untuk pertama kalinya setelah 30 menikahi pria Muslim, saya membaca isi Alquran,” katanya, yang mengaku awalnya ogah-ogahan membacanya.

Dia mengaku takjub dengan kitab suci almarhum suaminya itu, kendati hanya membaca terjemahannya saja. Untaian kata-katanya sungguh indah, katanya, begitu untaian ceritanya. “Itu bukan bahasa manusia. Itu bahasa Tuhan semesta alam,” katanya.

Dari membaca Quran pula ia tahu, Islam bukan agama baru. Islam telah dianut oleh nabi-nabi terdahulu. “Ini lebih mudah dimengerti, bahwa hanya ada satu Tuhan, tanpa partner, dan para nabi adalah utusan-Nya,” katanya.

Tiba-tiba, ia merasa tak berperantara antara dirinya dan Tuhan. “Hanya saya dan Pencipta saya,” kata Xenia yang kini berusia 60 tahun lebih.

Dia mengaku mulai rajin “curhat” pada Tuhan. “Aku berbicara pada Alllah dimana saja. Dia mendengar saya, dan memantapkan hati saya,” ujarnya. Sampai di satu titik, ia bulat tekad untuk bersyahadat.

Bagi Xenia, Islam adalah sistem yang sempurna. Allah tak hanya menurunkan Alquran, tapi juga mengutus Muhammad SAW untuk menjadi “contoh nyata” bagaimana Alquran diaplikasikan. “Jalan menuju surga itu berliku. Allah mengirim panduan menuju ke sana, melalui Alquran dan Muhammad,” katanya.

Xenia juga menyatakan, beda dengan adama lain yang penuh doktrin, Islam mengajak umatnya untuk berpikir. “Islam tak bilang, ‘Inilah dia, kau harus mengikutinya sekarang!’ Tapi Allah bilang, ‘Lihat, lihatlah sekelilingmu. Lakukan perjalanan, lihatlah tubuhmu, langit, alam, mengapa kau tak melihatnya (sebagai tanda-tanda kebesaran Allah?),” katanya, yang mengaku bersyukur telah menemukan islam, kendati memulianya di usia senja. (www.republika.co.id)

Fakta Politik Iran …!

Kantor Media Hizbut Tahrir

Wilayah Lebanon

No : H.T.L 42/32

Senin, 22 Ramadhan 1432 H/22 Agustus 2011

Duta besar Iran di Lebanon, Dr. Ghadhanfar Roknabadi, meminta untuk bertemu dengan pemimpin “Hizbut Tahrir wilayah Lebanon”. Sesuai permintaan itu, maka ketua Komite Eksekutif Dr. Muhammad Jabir,direktur Kantor Media Pusat, Ir. Utsman Bakhasy, ketua Kantor Media di Lebanon, Ahmad al-Qashash, dan anggota Lajnah Kontak Pusat, Ir. Shalih Salam, menemuinya.

Selama pertemuan terjadi pembicaraan tentang berbagai situasi politik secara umum dan insiden-insiden Suria secara khusus. Dr. Jabir menyerahkan kepada yang mulia duta besar sebuah surat di dalamnya menjelaskan sikap Hizb tentang politik Iran secara umum dan sikapnya tentang perlawanan Suria secara khusus. Berikut isi-isi penting di surat tersebut:

Apakah republik Iran menerapkan pemikiran Islam yang tegak di atas akidah Islam yang terinternalisasi dalam hukum-hukum syara’ tanpa yang lainnya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mengharuskan untuk merinci politik Republik Iran dalam dua aspek: dalam politik dalam negeri dan politik luar negeri.

Monitoring terhadap fakta sistem Iran dan politik dalam negerinya:

Dari monitoring politik pendidikan, kebudayaan dan media Iran, maka orang yang memonitornya menghasilkan kesimpulan yang jelas: yaitu bahwa berbagai politik ini tidak lain tegak di atas kecenderungan nasionalisme Persia yang jelas. Dan bahwa di dalam politik itu aspek-aspek Islam tidak diperhatikan, kecuali hanya “polesan kosmetik” untuk memberi label syariah Islam terhadap negara dan masyarakat di Iran. Negara dan masyarakat tidak dibangun di atas asas pemikiran Islam yang murni. Buktinya. bahwa rezim Iran terus bertindak berdasarkan pandangan nasionalisme Persia bukan berdasarkan pandangan Islami. Di mana disyaratkan presiden harus berkebangsaan Iran dan berasal dari kedua orang tua berkebangsaan Iran, serta negara hanya dijadikan untuk Iran saja dan bukan untuk umat Islam. Bahasa arab yang merupakan bahasa Islam juga tidak dijadikan sebagai bahasa resmi di republik tersebut. Sampai sekarang di Iran masih berlangsung perdebatan seputar identitas Iran dan identitas Islami dan sebagian nasionalis Iran masuk ikut campur di dalam semua itu. Terus berlangsungnya perayaan hari Raya Nuruz hanyalah contoh terus dijaganya kecenderungan nasionalisme. Dampak dari kecenderunan ini tampak jelas berupa terpicunya sektarianisme antara bangsa Persia dengan penduduk Iran dari bangsa arab, Baluch, Kurdi dan lainnya. Kecenderungan ini sendiri memiliki dampak pada politik luar negeri Republik Iran. Hal ini menuntun kita untuk membicarakan politik luar negeri Republik Iran ini. Baca kelanjutan halaman ini »

Jajak Pendapat: Amerika Biang Kerok Terorisme Global

Syabab.Com – Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Pusat Studi Arab-Eropa yang berkantor pusat di Paris menyimpulkan bahwa AS adalah biang kerok terorisme global.

Dari 86,4% responden berpendapat bahwa AS belum mencapai keberhasilan apapun dalam perang melawan terorisme setelah 10 tahun peristiwa September. Sebab menurut mereka bahwa AS sendiri adalah biang kerok dari terorisme global yang didirikan dan disebarkan oleh berbagai perang yang dilakukannya. Sementara para tokoh terorisme yang didukung dan dilindungi Amerika akan dihabisi setelah perannya selesai dan berakhir.

Sementara 8,2% responden menyakini bahwa dunia belum sepakat dengan satu definisi terkait terorisme. Lalu, bagaimana bisa sepakat untuk menghilangkannya. Adapun 5,4% responden mengatakan bahwa meskipun ada keberhasilan dalam menghilangkan sumber-sumber terorisme, namun ideologi teroris masih tertanam kuat dalam otak kelompok yang mereka sebut sebagai “pasien yang dapat dilepaskan pada suatu hari”.

Akhirnya pusat studi tersebut menyimpulkan bahwa AS telah menghabiskan sekitar 3-4 triliun dolar untuk pemberantasan terorisme tanpa mampu mencapai tujuannya karena berbagai kesalahan yang dilakukan sendiri. Baca kelanjutan halaman ini »

SBY dan “9 Malapetaka Terorisme”

Oleh: AM Waskito

FAKTA: Hari Minggu, 25 September 2011, sekitar pukul 10.55 WIB, seorang pemuda, diperkirakan usia 31 tahun, melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Kepunton Solo. Akibat aksi ini satu orang tewas -dengan usus terburai- yaitu si pelaku peledakan itu sendiri, dan puluhan jemaat gereja terluka. Menurut kabar, pelaku peledakan itu diperkirakan namanya Ahmad Yosefa.

Pagi hari terjadi peledakan bom, sore harinya SBY langsung membuat konferensi pers. Isi konferensi pers: dia menyebut peledakan itu sebagai aksi pengecut, dia menyebut pelaku peledakan itu ialah “jaringan Cirebon”, dan dia kembali memastikan bahwa Indonesia belum aman dari aksi-aksi terorisme.

Pernyataan SBY ini setidaknya mengandung dua masalah besar: Pertama, dia begitu cepat memastikan bahwa pelaku peledakan itu adalah ini dan itu. Hanya berselang beberapa jam SBY sudah memastikan, padahal hasil penyelidikan resmi dari Polri belum dikeluarkan. Hal ini mengingatkan kita kepada Tragedi WTC 11 September 2001. Waktu itu media-media Barat sudah memastikan bahwa pelaku peledakan WTC adalah kelompok Usamah, hanya sekitar 3 jam setelah peristiwa peledakan. Seolah, SBY sudah banyak tahu tentang seluk-beluk aksi bom bunuh diri di Kepunton Solo tersebut. Kedua, SBY untuk kesekian kalinya tidak malu-malu mengklaim bahwa kondisi Indonesia masih belum aman dari aksi-aksi terorisme. Kalau seorang pemimpin negara masih berakal sehat, seharusnya dia malu dengan adanya aksi-aksi terorisme itu. Tetapi sangat unik, SBY tampaknya sangat “menikmati” ketika kondisi Indonesia tidak cepat lepas dari aksi-aksi terorisme.

Bila Masanya Tlah Tiba, Seseorang Akan Dikejar Bencana, Sekalipun Dia Bersembunyi di Pucuk Gunung Atau Liang Semut…

Setiap ada aksi terorisme, dimanapun juga, termasuk di Indonesia, kaidahnya sederhana. Aksi terorisme bisa dibagi menjadi 3 jenis:

(a). Aksi yang benar-benar murni dilakukan oleh pelaku terorisme dengan alasan ideologis. Mereka melakukan teror karena kepentingan ideologi, dan menjalankan aksi itu dengan persiapan-persiapan sendiri. Aksi-aksi yang dilakukan oleh IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, atau kelompok David Coresh di Amerika termasuk jenis ini;

(b). Aksi terorisme yang dibuat oleh aparat sendiri dalam rangka mencapai tujuan politik tertentu. Aparat yang merancang dan mereka pula eksekutornya. Contoh monumental aksi demikian ialah peledakan WTC yang dilakukan oleh dinas intelijen Amerika sendiri;

(c). Aksi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu (misalnya kelompok Jihadis) yang ditunggangi oleh aparat. Penyusun aksi itu sebenarnya aparat, tetapi eksekutornya diambil dari kalangan Jihadis yang mudah dipengaruhi dan diprovokasi. Aksi peledakan bom itu sangat mudah dibuat oleh mereka yang punya DANA, INFORMASI, dan AKSES SENJATA. Sedangkan sudah dimaklumi, aparat keamanan memiliki itu semua. Mereka bisa membuat aksi peledakan dimanapun, lalu aksi itu diklaim dilakukan oleh pihak ini atau itu.

Malapetaka. Dalam bahasa Inggris disebut “disaster”. Dalam bahasa Arab disebut bala’. Seseorang disebut mendapat malapetaka ketika dia tertimpa keburukan, mushibah, kemalangan, atau penderitaan; karena telah melakukan kedurhakaan atau kezhaliman kelewat batas. Contoh manusia yang mendapatkan malapetaka ialah George Bush. Begitu hinanya manusia itu, sehingga dia dilempar sepatu ketika berbicara di Irak. Tidak pernah ada kepala negara dilempar sepatu sehina itu, selain George Bush. Baca kelanjutan halaman ini »

Amerika dan Khilafah: Masa Lalu & Masa Kini

Oleh : Sharique Naeem

Dalam percaturan politik internasional saat ini, Amerika terus menunjukkan dirinya sebagai kekuatan global tunggal yang tak tertandingi. Meskipun negeri itu sedang mengalami kesulitan dan ekonominya memburuk, dan menderita kemunduran dalam perang yang panjang di Irak dan Afghanistan, namun tetap mengklaim dirinya sebagai negara adidaya. Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika telah membuka front perang baru. Mulai dari meningkatkan pertempuran di Somalia, penyerangan dengan pesawat tanpa awak di Yaman dan Pakistan, dan penyerangan terhadap Libya, Amerika telah bertindak sendirian, maupun dengan para sekutu NATO-nya. Dunia Muslim dilanda serangan badai negeri-negeri imperialis. Meskipun memiliki sumber daya yang sangat besar, Dunia Muslim telah menyaksikan gejolak di negerinya sendiri, sebagai akibat dari para penguasanya yang menjadi kacung Amerika dan memberikan apa saja yang dituntut Amerika. Ini adalah realitas suram negeri-negeri muslim dalam menghadapi Amerika saat ini. Baca kelanjutan halaman ini »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.